KUTAI TIMUR, Okewal.com – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, sejumlah pedagang musiman bendera di Kutai Timur mulai merasakan penurunan drastis dalam penjualan. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, tren pembelian bendera dan umbul-umbul oleh masyarakat dinilai jauh menurun.
Dede, seorang pedagang asal Garut, Jawa Barat, mengaku tahun ini menjadi periode terberat selama empat kali ia berjualan di wilayah Sangatta. Ia mengatakan, penjualan bendera tahun ini jauh dari harapan.
“Kalau tahun lalu, saya bisa menjual sampai 20 kodi umbul-umbul. Sekarang belum sampai satu kodi,” ungkapnya saat ditemui di lapaknya pada Sabtu (3/8) siang.
Untuk diketahui, satu kodi setara dengan 20 lembar. Tahun lalu, Dede bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp9 juta. Namun, sejak mulai berdagang pada 22 Juli lalu hingga awal Agustus ini, ia baru mencatatkan omzet sekitar Rp1 juta.
Dede menjelaskan bahwa bendera merah putih dan umbul-umbul panjang menjadi barang dagangan paling diminati. Harga yang ditawarkan bervariasi, antara Rp40.000 hingga Rp60.000 tergantung jenis dan ukuran. Namun, daya beli masyarakat tampak lesu dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
”Biasanya mulai ramai sejak tanggal 5 Agustus. Tapi sekarang belum ada peningkatan berarti,” tambahnya.
Dede merupakan bagian dari rombongan besar pedagang asal Garut yang setiap tahun berdagang di berbagai wilayah di Kutim, termasuk Wahau, Bengalon, dan Sangatta. Ia menyebutkan, rombongan tersebut terdiri dari sekitar 20 orang. Khusus di Sangatta, terdapat sekitar 10 orang pedagang.
Bendera-bendera yang dijual merupakan hasil produksi dari Garut. Para pedagang ini bertindak sebagai agen yang memperoleh komisi dari hasil penjualan. Meskipun biaya perjalanan ditanggung sendiri, mereka tetap memilih berdagang di Kutim karena peluang pasar yang sebelumnya cukup menjanjikan.
“Kalau sudah lewat tanggal 17 Agustus, kami pulang ke Garut. Sekarang kami hanya berharap ada peningkatan penjualan dalam beberapa hari ke depan,” ujar Dede.
Senada dengan Dede, pedagang lainnya, Nanang Kariana, juga mengeluhkan kondisi serupa. Ia mengatakan pada tahun-tahun sebelumnya bisa memperoleh keuntungan antara Rp5 juta hingga Rp8 juta dalam satu kali musim dagang.
Nanang menilai turunnya minat beli masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya meningkatnya jumlah pedagang musiman, stok bendera lama yang masih disimpan masyarakat, serta persaingan dari penjualan bendera secara daring (online).
“Dulu, warga dari Kecamatan Rantau Pulung dan Bengalon belanja di sini. Tapi sekarang di sana juga sudah ada pedagang bendera, jadi pembeli di sini makin berkurang,” jelas Nanang.
Yang mengejutkan, Nanang mengaku sempat mendapat permintaan dari pembeli, khususnya anak muda, untuk menjual bendera bergambar karakter “One Piece”. Namun, ia menolak permintaan tersebut karena khawatir melanggar aturan.
”Ada yang cari, rata-rata anak muda. Tapi saya tidak berani jual karena takut bermasalah,” pungkasnya.(Wal)


