KUTAI TIMUR, Okewal.com– Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Sumarno, menegaskan bahwa pengurusan izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) tidaklah rumit. Ia juga membantah anggapan bahwa semua pelaku usaha wajib memiliki dapur produksi yang terpisah dari dapur rumah tangga.
Pernyataan tersebut disampaikan Sumarno menyikapi kekhawatiran sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor pangan, yang menganggap izin PIRT hanya bisa didapat jika usaha memiliki dapur khusus. Menurutnya, persyaratan tersebut hanya berlaku untuk usaha berskala besar atau yang berisiko tinggi terhadap kesehatan masyarakat.
“Kalau usahanya masih kecil, tidak perlu harus terpisah dari dapur rumah. Tapi tetap harus memenuhi syarat kebersihan, kesehatan lingkungan, dan standar lainnya. Kami akan cek dulu, kalau sesuai, kami berikan rekomendasi ke Dinas Penanaman Modal dan PTSP,” ujar Sumarno saat ditemui di halaman Auditorium Polres Kutim, Senin (4/8).
Ia menambahkan bahwa pengawasan terhadap industri makanan rumahan dilakukan secara berkala melalui tim kesehatan lingkungan (kesling) di setiap puskesmas. Tim ini, kata dia, rutin melakukan pemeriksaan ke tempat-tempat umum seperti warung makan dan kantin sekolah, termasuk pelaku usaha pangan rumahan.
“Di puskesmas itu tiap bulan ada tim kesling yang turun memeriksa. Itu termasuk juga usaha makanan. Jadi kita tetap awasi, dan dari situ bisa kita lihat apakah layak untuk direkomendasikan atau tidak,” jelasnya.
Sumarno menuturkan bahwa untuk usaha yang memiliki tingkat risiko tinggi, seperti produksi tahu, tempe, atau minuman dalam kemasan, memang dibutuhkan standar yang lebih ketat, termasuk penyediaan dapur produksi terpisah.
“Kalau produksinya besar, dengan karyawan belasan orang, itu idealnya memang harus pakai dapur terpisah. Kalau masih menggunakan dapur rumah, tentu ada risiko,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Dinas Kesehatan Kutai Timur berkomitmen untuk membantu pelaku usaha, bukan mempersulit proses perizinan.
“Kami tidak pernah mempersulit. Justru kami beri solusi dan saran teknis, misalnya terkait kualitas air. Kita arahkan agar air dicek secara rutin, termasuk kandungan pH-nya,” pungkas Sumarno.(Wal-3)


