KUTAI TIMUR, Okewal.com – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus berupaya menekan angka stunting di daerah. Salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan mengantisipasi resiko stunting pada anak dengan HIV/AIDS melalui kegiatan sosialisasi dan seminar bersama para pakar.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menegaskan anak dengan HIV/AIDS memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan anak lain. Hal ini disebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat penyakit tersebut.
“Karena anak-anak HIV/AIDS lebih beresiko stunting dari pada yang lain, dikarenakan efek dari penyakit tersebut yang melemahkan kekebalan tubuh,” ujarnya di Sangatta, Senin (1/9).
Untuk itu, pihaknya melibatkan tim pakar dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kutim dan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat. Melalui kegiatan seminar, sosialisasi, hingga program podcast Bangga Kencana, DPPKB Kutim memberikan ruang bagi pakar kesehatan untuk menjelaskan korelasi antara HIV/AIDS dengan stunting.
“Kami hanya melakukan pencegahan melalui program-program yang telah kami lakukan. Harapan kami, masyarakat yang terindikasi HIV/AIDS bisa segera melaporkan diri ke fasilitas kesehatan agar anak-anak mereka bisa ditangani sejak dini,” tambah Junaidi.
Sementara itu, Tim Pakar IDI Kutim, dr. Meitha Togas, menjelaskan bahwa HIV/AIDS dan stunting merupakan masalah yang saling terkait. Menurutnya, HIV/AIDS sangat memengaruhi tumbuh kembang anak karena melemahkan sistem imun tubuh.
“HIV/AIDS itu sangat mempengaruhi kekebalan tubuh. Jadi anak yang terindikasi HIV/AIDS beresiko tinggi stunting. Keduanya seperti lingkaran setan yang sama-sama menghambat tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Dr. Meitha menambahkan, penanganan anak dengan HIV/AIDS harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pengobatan antiretroviral (ART), manajemen gizi, hingga deteksi dini.
“Yang penting adalah kesadaran orang tua untuk melaporkan terlebih dahulu agar bisa diketahui apakah anaknya terinfeksi HIV/AIDS atau tidak. Dengan begitu, langkah pencegahan dan pengobatan bisa lebih cepat dilakukan,” pungkasnya.(Wal-1)


