KUTAI TIMUR, Okewal.com – Sebuah pelatihan public speaking yang digelar di Hotel Royal Victoria, Sangatta, membawa angin segar bagi pemberdayaan perempuan di Kutai Timur. Kegiatan ini diprakarsai oleh Yohana Fransiska, pendiri Kelas Bermain dan Belajar Bersama Kak Yo, yang juga merupakan pelatih public speaking. Pelatihan tersebut terselenggara berkat kerja sama dengan manajemen hotel setempat.
Yohana menjelaskan bahwa pelatihan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinannya terhadap minimnya ruang bagi perempuan untuk mengasah kemampuan berkomunikasi secara efektif. Ia menilai, selama ini perempuan kerap diasosiasikan dengan komunikasi emosional, padahal mereka juga memiliki potensi besar dalam menyampaikan pesan secara logis dan terstruktur.
“Perempuan perlu melangkah lebih jauh, dimulai dari kata-kata. Dengan public speaking, mereka bisa menjadi pembicara, MC, bahkan memasarkan produk dengan komunikasi yang lebih efektif,” ujar Yohana saat di wawancarai.(1/8)
Ia menambahkan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan rasa percaya diri peserta, terutama ibu rumah tangga, agar berani tampil di ruang publik. “Satu kata bisa menghancurkan ribuan hati, tapi juga bisa membangkitkan ribuan semangat. Karena itu, perempuan harus menguasai komunikasi,” tegasnya.
Pelatihan ini hanya diikuti oleh 25 peserta guna menjaga kualitas pembelajaran yang lebih fokus dan interaktif. Salah satu narasumber utama adalah Laurentia, seorang MC dan motivator dari Kota Sangatta.
Peserta pelatihan, dr. Yulia, mengaku mengikuti kegiatan ini untuk memperbaiki cara menyampaikan pesan agar lebih diterima. “Saya ingin belajar menyampaikan pesan dengan logika, bukan hanya perasaan,” tuturnya.
Sementara itu, peserta lain, Amitia, menilai pelatihan ini sangat relevan untuk kehidupan sehari-hari. “Public speaking bukan sekadar bicara, tapi bagaimana menyampaikan pesan dengan intonasi, gestur, dan kata-kata yang tepat,” ujarnya.
Seorang peserta dari Bengalon bahkan rela menempuh jarak jauh demi mengikuti pelatihan ini. Ia menyebut, keahlian berbicara sangat dibutuhkan dalam pekerjaannya yang melibatkan interaksi dengan banyak orang. “Saya belajar mengelola rasa gugup dan menyusun kalimat yang efektif,” jelasnya.
Yohana berharap pelatihan serupa dapat didukung oleh pemerintah daerah, khususnya dinas yang menangani pemberdayaan perempuan. Ia menyoroti pentingnya komunikasi dalam mencegah berbagai permasalahan sosial yang kerap menimpa kaum perempuan.
“Banyak kasus perempuan menjadi korban perdagangan manusia atau mengalami tekanan hingga bunuh diri karena tidak bisa menyampaikan masalahnya. Komunikasi adalah kunci,” pungkasnya.
Pelatihan ini menjadi bukti bahwa perempuan di Kutai Timur memiliki semangat besar untuk berkembang dan menjadi agen perubahan dalam masyarakat melalui kekuatan kata-kata.(Wal)


