Okewal.com, KUTIM – Potret ketimpangan pembangunan infrastruktur masih nyata dirasakan masyarakat di pedalaman Kabupaten Kutai Timur.
Di Desa Longjak, Kecamatan Busang, anak-anak sekolah harus menghadapi risiko setiap hari dengan menyeberangi sungai menggunakan perahu sederhana demi bisa mengenyam pendidikan.
Kondisi tersebut telah berlangsung lama dan menjadi satu-satunya akses bagi para pelajar untuk menuju sekolah. Aktivitas ini semakin berbahaya ketika debit air meningkat atau cuaca buruk melanda wilayah tersebut.
Perhatian publik kembali tertuju pada situasi ini setelah sebuah video penyeberangan pelajar viral di media sosial. Unggahan dari akun Instagram @emakfarida77 memicu beragam reaksi, termasuk kritik terhadap lambannya pembangunan jembatan yang telah lama diharapkan warga.
Dalam video tersebut, seorang warga mengungkapkan kekecewaannya terhadap belum terealisasinya pembangunan jembatan di desa mereka.
“Memang mahal kah? Apa memang selama ini menunggunya?” ujarnya.
Warga lainnya juga menilai bahwa pembangunan jembatan seharusnya menjadi prioritas, mengingat pentingnya akses aman bagi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.
“Pembangunan jembatan daerah harusnya bukan nilai besar buat kita punya pemerintah. Yang sulit bukan dana pembangunan, tapi mungkin sulit itu memulainya,” ungkap warga dalam video tersebut.
Ia menambahkan, semangat anak-anak untuk tetap bersekolah di tengah keterbatasan harus menjadi perhatian serius pemerintah dalam pemerataan pembangunan.
“Padahal anak-anak semangat sekolah, orangtua berjuang keras untuk pendidikan yang baik. Tapi… ya sudahlah, katanya Indonesia sudah merdeka,” lanjutnya.
Ironisnya, di tengah keterbatasan akses tersebut, aktivitas kapal pengangkut batu bara justru terlihat ramai melintasi sungai di wilayah itu, menambah kontras kondisi yang dirasakan masyarakat setempat.
Camat Busang, Uleh Juk, membenarkan bahwa hingga kini warga Desa Longjak masih mengandalkan perahu untuk beraktivitas, termasuk anak-anak sekolah.
“Kondisi itu sudah lama. Saya juga baru di sana, jadi belum tahu persis detailnya,” katanya, Selasa (7/4).
Ia menjelaskan, pembangunan jembatan di lokasi tersebut membutuhkan anggaran besar dan tidak dapat direalisasikan dalam waktu singkat.
“Belum masuk Musrenbang, karena jembatannya skala besar. Itu harus melalui program multiyears,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti informasi tersebut dengan melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
“Nanti kami cek lokasinya,” tutupnya.(wal-3)

